Hukum Belum Berpihak: Ini Kisah Budiman S yang Melawan Dzolim dan Ketidakadilan hingga Titik Nadir

- Penulis

Minggu, 6 Juli 2025 - 12:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FORUMMAKASSARINFO.COM,-MAROS I – Di balik sejuknya udara Dusun Panaikang, Desa Moncongloe, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, tersimpan kisah panjang tentang seorang pria yang hidupnya diterpa ke dzoliman dan dirampas oleh konflik berkepanjangan.

Namanya Budiman S seorang warga biasa yang kini menapaki tahun kesembilan dalam pusaran persoalan hukum yang tak kunjung usai.

Ketenteraman, bagi Budiman, bukan lagi sebuah kenikmatan sederhana, melainkan kemewahan yang sulit diraih.
Sejak tahun 2016, hidupnya berubah drastis. Harapannya hanya satu saat itu yaitu: mendapatkan sertifikat atas tanah yang ia kuasai secara sah dan
dia tempati sebagai tmpt tinggal bersama istri. Namun, alih-alih menemukan keadilan, ia justru terseret dalam labirin konflik hukum baik pidana maupun perdata yang datang silih berganti tanpa ampun.

Salah satu bab terpanjang dalam kisah hidupnya adalah sengketa batas tanah. Sengketa ini tak hanya berkutat di level desa, tetapi menjalar hingga ke Kantor Wilayah ATR/BPN Provinsi Sulawesi Selatan.

Budiman S bahkan sempat melaporkan dugaan pelanggaran oleh oknum aparat penyidik Polres Maros dan Polsek Moncongloe ke Propam Polda Sulsel.

Namun, laporan demi laporan tak kunjung membawa titik terang. Sidang-sidang di Pengadilan Negeri Maros masih berlangsung. Rencana gelar perkara di Ditreskrimum Polda Sulsel pun masih menjadi harapan yang menggantung.

Di tengah peliknya proses hukum, badai lain menerpa. Budiman S dan istri Fely Sule Toding harus berjuang melawan penyebaran berita hoaks dan fitnah. Kasus itu kini ditangani oleh Krimsus Polda Sulsel.

Namun, Budiman S dengan tegas menyatakan bahwa dirinya adalah korban framing. Ia merasa dijebak dalam narasi palsu dan provokatif yang sengaja disusun untuk menghancurkan nama baiknya.

Baca Juga:  Berlokasi Di dalam lorong, Jumat Curhat Polres Pelabuhan Makassar tetap ramai

Tak cukup dengan tekanan hukum dan stigma sosial, kekerasan fisik secara biadab pun turut menyasar dirinya. Suatu malam yang kelam, rumah dan kendaraan Budiman S dihujani batu oleh sekelompok orang yang diduga dipimpin oleh seorang berinisial AD. Ia terluka, baik secara fisik maupun batin serta istri diterpa rasa takut yang hebat dan was-was hingga sekarang. Laporan polisi telah dibuat, tapi keadilan seolah masih jauh dari genggamannya.

Meski babak belur oleh masalah, Budiman S tetap berdiri. Ia tak menyerah. Baginya, mempertahankan tanah bukan sekadar soal lahan, tapi menyangkut harga diri dan hak atas kehidupan yang layak.

“Saya hanya ingin hidup tenang, tinggal di tanah yang saya urus sendiri secara sah. Tapi tampaknya ada yang tak senang kalau saya terus berdiri memperjuangkan itu,” ucapnya lirih, tapi penuh keyakinan.

Perjuangan Budiman S adalah gambaran nyata tentang bagaimana warga kecil bertahan dalam sistem hukum yang acap kali tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Di tengah fitnah, intimidasi, dan kekerasan, Budiman S tetap percaya: keadilan mungkin tertunda, tapi tidak akan hilang.

Kisah Budiman adalah seruan sunyi dari pinggiran Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan tepatnya di RT/RW 01/01 Dusun Panaikang, Jln. Poros Panaikang Patongtongan Desa Moncongloe Kecamatan Moncongloe dalam belantara hukum dan kekuasaan, masih ada orang-orang kecil yang bertahan, bukan karena kuat, tapi karena tak punya pilihan selain harus terus berjuang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel forummakassarinfo.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gabungan Media & GWI Temukan Bisnis Obat Keras Tipe G di Pondok Aren Menggila: Berani Serang Jurnalis, Aparat Diminta Tegas!
Menunggu Wakil Tuhan Hakim Agung bersidang di MA RI Dalam Perkara No.10/PDT.G/2025 dan Kasasi No.3297/K/PDT/2026.
GWI Geram! Kecam Arogansi Pemdes Sumber Sari Kampar yang Abai Lambang Negara dan Alergi Kritik Jurnalis
Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono, DBA., Ph.D. Apresiasi Pengukuhan Prof. Dr. Diding Rahmat, S.H., M.H. sebagai Guru Besar di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma
Peringati Hari Bhayangkara Ke-80, Bhabinkamtibmas Kelurahan Bunga Ejaya Juara 1 Sebagai Bhabinkamtibmas Teladan Tingkat Polrestabes Makassar
Pekarangan Pangan Bergizi Polsek Bontoala Raih Juara 2 di Hari Bhayangkara Ke-80 Polrestabes Makassar
Tinjau Kembali Kasus Perdata Publik Soroti Perkembangan Perkara Terbaru Putusan PN Maros No.10/PDT.G/2025 di Makamah Agung RI Kasasi No.3297/K/PDT/2026
Pesan Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono di Hari Pelaut se Dunia 2026, Mengukir Masa Depan Maritim: Seruan Strategis bagi Sang Penakluk Ombak
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 15:02 WIB

Menunggu Wakil Tuhan Hakim Agung bersidang di MA RI Dalam Perkara No.10/PDT.G/2025 dan Kasasi No.3297/K/PDT/2026.

Selasa, 7 Juli 2026 - 17:08 WIB

GWI Geram! Kecam Arogansi Pemdes Sumber Sari Kampar yang Abai Lambang Negara dan Alergi Kritik Jurnalis

Jumat, 3 Juli 2026 - 07:29 WIB

Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono, DBA., Ph.D. Apresiasi Pengukuhan Prof. Dr. Diding Rahmat, S.H., M.H. sebagai Guru Besar di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Rabu, 1 Juli 2026 - 03:47 WIB

Peringati Hari Bhayangkara Ke-80, Bhabinkamtibmas Kelurahan Bunga Ejaya Juara 1 Sebagai Bhabinkamtibmas Teladan Tingkat Polrestabes Makassar

Rabu, 1 Juli 2026 - 03:45 WIB

Pekarangan Pangan Bergizi Polsek Bontoala Raih Juara 2 di Hari Bhayangkara Ke-80 Polrestabes Makassar

Berita Terbaru