FORUM MAKASSAR INFO.COM-
Makassar, 23 Maret 2026 — Sebuah peristiwa bernilai strategis dan spiritual berlangsung di Hotel Claro, saat Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono menyerahkan secara langsung buku karyanya “Maritime Theology” kepada Bapak Pendeta Salmon AJ. Bawole, Ketua Majelis Jemaat GPIB Gereja Bukit Zaitun Makassar. Momen ini menjadi lebih dari sekadar penyerahan buku, melainkan sebuah perjumpaan pemikiran yang mempertemukan dimensi akademik, maritim, dan spiritual dalam satu ruang yang harmonis.
Acara tersebut berlangsung dalam suasana akrab dan penuh penghormatan, mencerminkan kesamaan visi kedua tokoh dalam membangun kesadaran baru tentang pentingnya pendekatan holistik dalam kehidupan pelaut. Penyerahan buku ini sekaligus menjadi simbol bahwa dunia pelayaran tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis dan ekonomi, tetapi juga memiliki dimensi kemanusiaan dan spiritual yang sangat mendalam.
Karya “Maritime Theology” sendiri hadir sebagai gagasan inovatif yang mencoba menjembatani dunia teologi dengan realitas kehidupan di laut. Dalam buku tersebut, dijelaskan bagaimana nilai-nilai iman dapat menjadi sumber kekuatan bagi para pelaut dalam menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan komunikasi dengan keluarga, tekanan pekerjaan, hingga kondisi alam yang tidak menentu. Pendekatan ini menawarkan cara pandang baru bahwa laut juga merupakan ruang refleksi spiritual yang memperkaya pengalaman hidup manusia.
Dalam kesempatan itu, Prof. Eddy Sumartono mengungkapkan bahwa penulisan buku ini dilatarbelakangi oleh kepedulian terhadap kondisi psikologis dan spiritual para pelaut. Ia menilai bahwa selama ini perhatian terhadap aspek rohani dalam dunia pelayaran masih sangat terbatas. Oleh karena itu, melalui karya ini, ia ingin menghadirkan perspektif yang lebih menyeluruh, di mana pelaut tidak hanya dipandang sebagai pekerja profesional, tetapi juga sebagai individu yang memiliki kebutuhan spiritual yang perlu dipenuhi.
Sementara itu, Pendeta Salmon AJ. Bawole menyampaikan apresiasi mendalam atas kontribusi pemikiran yang dituangkan dalam buku tersebut. Menurutnya, konsep teologi maritim merupakan pendekatan yang relevan dan kontekstual, khususnya bagi gereja yang melayani jemaat dengan latar belakang profesi di sektor pelayaran. Ia menekankan bahwa gereja memiliki tanggung jawab untuk hadir secara nyata dalam memberikan pendampingan spiritual yang mampu menjawab tantangan kehidupan modern.
Lebih dari itu, pertemuan ini juga menggambarkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun pemahaman yang lebih komprehensif tentang kehidupan manusia. Sinergi antara akademisi dan tokoh agama diyakini mampu melahirkan solusi yang tidak hanya rasional, tetapi juga menyentuh aspek batiniah. Hal ini menjadi langkah awal yang penting dalam menciptakan ekosistem maritim yang lebih humanis dan berkelanjutan.
Sebagai kota pelabuhan yang dinamis, Makassar kembali menunjukkan perannya sebagai pusat pertukaran gagasan yang konstruktif. Kehadiran buku “Maritime Theology” di tengah masyarakat diharapkan dapat menjadi referensi penting dalam mengembangkan pendekatan baru yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai iman.
Penyerahan buku ini pada akhirnya menjadi simbol bahwa perjalanan manusia, termasuk para pelaut, tidak hanya berkutat pada aspek fisik semata, tetapi juga merupakan perjalanan spiritual yang penuh makna. Dengan demikian, karya ini diharapkan mampu menginspirasi lahirnya generasi pelaut yang tidak hanya profesional, tetapi juga memiliki kedalaman iman dan integritas yang kuat dalam menghadapi dinamika dunia global.(*)
















