FORUM MAKASSAR INFO.COM, JAKARTA – 2025, – Arus perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus bergerak cepat dan semakin memengaruhi hampir seluruh sendi kehidupan manusia. Dari sektor ekonomi, pendidikan, hingga tata kelola sosial, AI hadir sebagai teknologi yang menawarkan efisiensi sekaligus tantangan baru. Menyikapi kondisi tersebut, Bincang Online Inspiratif (BIONS) Seri 287 yang diselenggarakan secara daring pada Sabtu, 20 Desember 2025, menghadirkan diskusi reflektif mengenai arah pemanfaatan AI di masa depan.
Forum ini menghadirkan Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono, DBA., Ph.D. sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, Prof. Eddy mengajak peserta untuk melihat AI tidak hanya sebagai inovasi teknologi, tetapi sebagai kekuatan besar yang mampu membentuk perilaku, pola pikir, dan struktur sosial masyarakat. Oleh karena itu, penggunaan AI perlu dikawal dengan pendekatan yang menyeluruh dan berlandaskan nilai.
Menurut Prof. Eddy, etika merupakan fondasi awal yang tidak boleh diabaikan dalam pengembangan teknologi AI. Ia menjelaskan bahwa etika berfungsi sebagai pagar moral agar teknologi tetap berada dalam koridor kemanusiaan. Tanpa etika, kecanggihan AI justru dapat berujung pada penyalahgunaan, ketidakadilan, serta pengabaian hak-hak dasar manusia.
“Teknologi yang canggih tanpa nilai hanya akan melahirkan masalah baru. Etika menjadi penuntun agar kemajuan tetap membawa manfaat,” ungkapnya di hadapan para peserta.
Selain etika, aspek regulasi juga menjadi sorotan penting. Prof. Eddy menegaskan bahwa regulasi tidak seharusnya dipandang sebagai hambatan inovasi. Sebaliknya, regulasi yang dirancang secara tepat dapat memberikan kepastian hukum, melindungi masyarakat, sekaligus mendorong pengembangan teknologi yang bertanggung jawab.
Ia menilai bahwa regulasi AI perlu bersifat adaptif dan visioner, mengikuti perkembangan global tanpa kehilangan relevansi dengan kondisi lokal. Dalam konteks Indonesia, Prof. Eddy mendorong adanya kebijakan yang tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif dalam menyambut era digital yang semakin kompleks.
Pembahasan kemudian berlanjut pada isu ketahanan sosial. Prof. Eddy mengingatkan bahwa penerapan AI dalam skala luas berpotensi membawa dampak signifikan terhadap kehidupan sosial, termasuk perubahan dunia kerja, pola interaksi manusia, dan tekanan psikologis. Tanpa kesiapan sosial yang memadai, masyarakat bisa mengalami guncangan akibat disrupsi teknologi.
Namun demikian, ia menekankan bahwa tantangan tersebut bukanlah alasan untuk menolak teknologi. Justru sebaliknya, AI dapat menjadi peluang besar jika diiringi dengan kemampuan adaptasi dan penguatan ketahanan sosial. Ketahanan sosial, menurutnya, mencakup kesiapan mental, budaya, dan institusional dalam menghadapi perubahan.
Dalam hal ini, pendidikan memegang peran strategis. Prof. Eddy menyampaikan bahwa pendidikan di era AI harus mengalami transformasi, tidak hanya menekankan penguasaan teknologi, tetapi juga pengembangan karakter, literasi digital, dan pemahaman etika. Dengan pendekatan tersebut, generasi muda diharapkan mampu menjadi pengguna teknologi yang kritis dan bertanggung jawab.
Diskusi dalam BIONS Seri 287 berlangsung hidup dan interaktif. Peserta aktif mengajukan pertanyaan terkait kesiapan sumber daya manusia, tantangan kebijakan nasional, serta peran individu dalam menjaga etika di ruang digital. Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, Prof. Eddy menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.
Ia menilai bahwa pengelolaan AI tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau pelaku industri. Akademisi, masyarakat sipil, dan individu juga memiliki peran penting dalam membentuk ekosistem teknologi yang sehat dan beretika.
“Pengamanan teknologi adalah tanggung jawab bersama. Kolaborasi menjadi kunci agar AI benar-benar memberi manfaat luas,” tegasnya.
Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi pemikiran yang disampaikan, panitia BIONS memberikan sertifikat penghargaan kepada Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono sebagai narasumber. Sertifikat tersebut ditandatangani oleh Dr. Agung Patera selaku CEO BIONS Series, sebagai simbol pengakuan atas dedikasi dan peran aktif Prof. Eddy dalam mengedukasi publik.
Menutup sesi diskusi, Prof. Eddy mengajak seluruh peserta untuk tidak bersikap pasif terhadap perkembangan teknologi. Ia mendorong masyarakat untuk terus belajar, bersikap kritis, dan menjaga nilai kemanusiaan di tengah kemajuan AI.
“AI adalah alat yang luar biasa, tetapi manusia harus tetap menjadi pengendali arah. Nilai, etika, dan tanggung jawab sosial tidak boleh ditinggalkan,” pungkasnya.
Melalui BIONS Seri 287 ini, diharapkan lahir kesadaran kolektif bahwa masa depan teknologi AI sangat ditentukan oleh cara manusia mengelolanya hari ini. Diskusi ini menjadi ruang refleksi penting bahwa kemajuan teknologi dan kematangan nilai harus berjalan beriringan.
Salam Redaksi,.
















