Jacob Ereste : Permohonan Maaf & Pencitraan Bersifat Spiritual Tidak Mungkin Dapat Dipalsu

- Penulis

Rabu, 16 Oktober 2024 - 10:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

  • FORUM MAKASSAR INFO – Membangun citra diri yang palsu itu, semua orang paham, meski tak pernah dikatakan. Sebab kejujuran dan keikhlasan itu hanya dapat dilihat dan dirasakan lewat perbuatan orang yang bersangkutan. Boleh saja tampilannya culun seperti orang gunung yang belum memahami beragam peradaban manusia kebanyakan. Tetapi kejujuran dan keikhlasan itu tidak mungkin dapat dimanipulasi dengan sempurna, terlebih pada mereka yang eling kan waspodo seperti yang telah diingatkan Raden Mas Ronggowarsito.

Sikap ugahari itu pun begitu, tidak mungkin dapat dimanipulasi dengan persis sekedar untuk mengelabui banyak orang. Jadi permohonan maaf yang serius bukan dari akibat kesalahan yang dilakukan secara berulang, meski dalam bentuk Kadus dan masalah yang lain. Termasuk janji palsu hingga membangun pencitraan diri sebagai umat beragama yang terkesan paling taat dengan melakukan ritual keagamaan dalam kepura-puraan. Sebab dalam pelaksanaan dan ketekunan menjalankan ajaran dan tuntunan agama itu bukan untuk dipamerkan. Tetapi lebih mengutamakan dalam kebijakan dan perbuatan yang nyata memberi manfaat kepada banyak orang. Setidaknya, tuntunan dan ajaran agama yang baik untuk dijalankan itu tidak mendatangkan kerugian atau gangguan bagi orang lain.

Jadi, permohonan maaf dan upaya membangun citra diri yang baik itu, tidak mungkin dapat dilakukan tanpa kejujuran dan keikhlasan tanpa reserve. Permohonan maaf dan hasrat membangun pencitraan diri yang baik itu harus dilakukan dengan sepenuh rasa kerendahan hati. Jadi bukan sebagai upaya untuk penebusan dosa dari perbuatan dan kelakuan diri yang culas di masa lalu. Dan semua itu harus dipertanggung jawabkan secara lahir (di dunia) dan batin (di akhirat) yang harus dan wajib diyakini oleh orang yang mentaati semua ajaran dan tuntunan agama apapun yang dipercayainya.

Baca Juga:  Nyepi sebagai Momentum Introspeksi, Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono Gaungkan Pesan Kedamaian dan Keseimbangan Hidup

Dalam kontek inilah etika, moral dan akhlak perlu dikalkulasi kembali, apakah bukan sekedar menempel seperti asesoris penghias diri belaka ?

Begitulah kejujuran dan keikhlasan tidak mungkin dapat dimanipulasi atau sekedar dibuat imitasi. Sebab gaungnya disuarakan oleh hati kepada hati yang lain. Maka itu, laku spiritual menjadi penting untuk mengasuh dan menjaga serta meningkatkan kualitas etika, moral dan akhlak manusia agar tak terjerembab dalam kutukan dan makian banyak orang seperti awalnya dari penghukuman — dalam bentuk moral — yang pasti akan berlanjut pada hukum alam yang disebut para ahli agama sebagai sunnatullah.

Hanya dari kesadaran dan pemahaman serupa ini, pengertian terhadap karma dan azab dapat diyakini sebagai sesuatu yang pasti akan datang dari langit. Sebab hukum positif — yang dibuat oleh manusia dengan segenap rincian etika, moral dan akhlak untuk memuliakan manusia telah diabaikan. Bahkan — hukum dan perundangan-undangan itu semua sudah diperdagangkan di pasar bebas (pengadilan dan oleh para petugas di lapangan) untuk bisa mendapatkan banyak keuntungan di luar maupun di dalam jam kerja pengabdian mereka yang patut berpihak kepada rakyat.

Artinya, permohonan maaf dan pencitraan itu pun ada yang palsu. Tidak otentik atas dasar kejujuran dan keikhlasan yang sejati.

Tangerang, 16 Oktober 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel forummakassarinfo.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

PKP Bukit Zaitun Raih Juara Pertama Lomba Line Dance Lintas Gerejawi di Makassar
Inspirasi dari Pesisir Iman: Penyerahan Buku “Maritime Theology” Menggugah Semangat Pelayanan di Makassar.
Makassar Jadi Saksi Penyerahan “Maritime Theology”: Menguatkan Nilai Iman dalam Dunia Pelayaran.
Semangat Kebangkitan Menggema: Pesan Paskah 2026 Penuh Harapan dari Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono
Menghidupkan Makna Pengorbanan dan Kebangkitan: Seruan Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono di Momen Jumat Agung dan Paskah
Perspektif Baru Dunia Maritim: Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono Kupas Maritime Theology di BILD IKN
Refleksi Idul Fitri 1447 H, Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono Serukan Makna Ketulusan dan Harmoni Sosial
Nyepi sebagai Momentum Introspeksi, Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono Gaungkan Pesan Kedamaian dan Keseimbangan Hidup
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 11:04 WIB

PKP Bukit Zaitun Raih Juara Pertama Lomba Line Dance Lintas Gerejawi di Makassar

Minggu, 12 April 2026 - 05:33 WIB

Inspirasi dari Pesisir Iman: Penyerahan Buku “Maritime Theology” Menggugah Semangat Pelayanan di Makassar.

Minggu, 12 April 2026 - 05:18 WIB

Makassar Jadi Saksi Penyerahan “Maritime Theology”: Menguatkan Nilai Iman dalam Dunia Pelayaran.

Minggu, 5 April 2026 - 04:05 WIB

Semangat Kebangkitan Menggema: Pesan Paskah 2026 Penuh Harapan dari Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono

Jumat, 3 April 2026 - 05:32 WIB

Menghidupkan Makna Pengorbanan dan Kebangkitan: Seruan Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono di Momen Jumat Agung dan Paskah

Berita Terbaru