Sidrap – FORUM.MAKASSAR.INFO.COM – Koordinator Wilayah (Korwil) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Triga Nusantara Ajatappareng M. Rusli, melontarkan kritik keras terhadap pelaksanaan proyek pembangunan Gedung Koperasi Merah Putih di wilayah Ajatappareng.khususnya di Kab Sidrap, tepatnya di Desa Talumae Kec. Watang Sidenreng Sidrap, Selasa, 24 Februari 2026.
Berdasarkan pantauan di lapangan, proyek tersebut diduga dikerjakan “asal Kerja” dan tidak memenuhi standar konstruksi yang baik dan Pemantauan ini di dampingi Ketua DPC Triga Nusantara Sidrap Ashadi Kadir.
Pencampuran Material Secara Manual Jadi Sorotan
Salah satu poin krusial yang menjadi temuan tim LSM Triga Nusantara adalah metode pencampuran material bangunan. M. Rusli mengungkapkan bahwa pekerja di lokasi terpantau melakukan pengadukan semen dan pasir secara manual, tanpa menggunakan mesin pengaduk (molen).
”Kami menemukan di lapangan bahwa pencampuran material tidak menggunakan mesin molen. Ini sangat riskan terhadap kualitas kekuatan bangunan. Jika diaduk manual, konsistensi campuran beton atau mortar tidak akan merata,” ujar M. Rusli kepada awak media, Selasa, 24 Februari 2026.
Kekhawatiran Terhadap Kualitas Bangunan
Lanjut M. Rusli Penggunaan metode manual dalam proyek skala institusi seperti Koperasi Merah Putih dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap spesifikasi teknis. Menurut Rusli, hal ini memicu dugaan adanya upaya efisiensi biaya yang tidak sehat, yang pada akhirnya dapat merugikan negara dan masyarakat sebagai pengguna fasilitas.
Poin-poin keberatan LSM Triga Nusantara:
Kualitas Mutu Beton: Pengadukan manual sulit mencapai standar K-tertentu yang dipersyaratkan.
Ketahanan Bangunan: Campuran yang tidak homogen berpotensi menyebabkan keretakan di masa depan.
Transparansi: Diduga ada pengabaian terhadap Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan metode kerja yang seharusnya profesional.
Tidak adanya Papan Proyèk
Dalam pejerjaa Pidasi Tidak menggunakan Pasir Urug, sementara di gàmbaar menggunàkan pasir Urug.
Pekerjanya tidak menggunakan APD (Alat Pelindung Diri).
Harapan Pemantauan Pelaksanaan
M. Rusli menegaskan bahwa tujuan dari pemantauan ini adalah untuk memastikan bahwa setiap proyek pemerintah maupun lembaga publik berjalan sesuai koridor hukum dan teknis.
”Tujuan kami melakukan pengawasan ketat adalah agar anggaran yang dikucurkan tidak terbuang sia-sia. Kami berharap pihak pelaksana segera memperbaiki metode kerjanya, dan pihak terkait segera melakukan evaluasi sebelum pekerjaan ini rampung,” tegas Rusli
LSM Triga Nusantara Korwil Ajatappareng berkomitmen akan terus mengawal kasus ini hingga ada kejelasan mengenai standarisasi mutu bangunan Koperasi Merah Putih tersebut.
Sementara itu, Mandor Kerja Kegiatan Proyek Merah Putih Raden mengatakan, ia bahwa kegiatan pekerjaan ini sudah berlangsung lebih satu minggu, dan hasil pekerjaannya semua pekerjaan pondasi bangunan sudah selesai, namun belum di lakukan pengecoran untuk pekerjaan Slop
Lanjut Raden, ia akui pekerjaan selama ini tidak menggunakan molen, dan hanya di lakukan secara manual, namun pihaknya akan berupaya dalam waktu dekat, ungkap Raden. (*)
Editor : (Tim/Red)
















