Sejarah Coto Makassar Makanan Kesukaan Raja-Raja Gowa

- Penulis

Selasa, 25 Juni 2024 - 11:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Makassar,-Dahulu kala, di Somba Opu, Sulawesi Selatan tahun 1538 Kerajaan Gowa sangat aktif memperluas daerah kekuasaan Sang Raja ingin memberi makanan tambahan kepada Prajurit agar semangat dalam berperang.Selasa (25/06/2024)

Kemudian, Sang Raja memanggil seorang ahli juru masak bernama Daeng Toak dari Kerajaan Bajeng. Kerajaan Bajeng merupakan Kerajaan yang bermukim di Bantaeng kemudian berpindah lokasi ke Jeneponto dan Takalar.

Awalnya Daeng Toak bingung ingin memasak apa, namun setelah melihat banyak sisa jeroan sapi yang tak terpakai juru masak itu mendapat inspirasi dan ide baru tentang hidangan yang diminta Sang Raja.

Selanjutnya, jeroan sapi diramu bersama empat puluh jenis rempah tradisional atau disebut dengan istilah Rampa patang pulo. Kemudian dimasak secara khusus dalam wadah kuali tanah atau disebut dengan Uring butta.

Akhirnya olahan jeroan itu berhasil menjadi hidangan baru yang bernama coto Mangkasara atau coto Makassar makanan itu kemudian dihidangkan kepada Prajurit kerajaan Gowa yang berjaga di pagi hari.

Baca Juga:  Senam Sehat Bersama Hj. Yusni, S.H., M.H., Calon Legislatif DPRD Kota Makassar Partai Nasdem Nomor Urut 4 Dapil III Makassar

Karena begitu lezat, coto menjadi makanan istimewa Kerajaan dan selalu dihidangkan untuk para tamu Bangsawan yang berkunjung ke istana.Tingkatan kasta dari hidangan coto disesuaikan dari jenis bagian daging sapi yang disajikan.

Coto Makassar pertama kali dibuat di desa Paddinging kabupaten Takalar pada abad ke-16. Dahulu, coto bagian jeroan sapi disantap oleh Prajurit istana. Sedangkan bagian daging sapi sirloin dan tenderloin disantap oleh keluarga kerajaan Gowa.

Coto Makassar merupakan hidangan kuah tertua di Indonesia makanan ini menginspirasi terbentuknya jenis-jenis soto berbagai daerah di nusantara akibat pengaruh pelaut Makassar lewat jalur perdagangan ke tanah Jawa.

Pada tahun 2015, Menteri pendidikan dan kebudayaan resmi menetapkan coto Makassar sebagai warisan budaya tak benda di bidang kuliner. Rakyat Sulawesi Selatan yang pekerja keras, rasa lelah dan rindunya selalu terobati dengan semangkuk coto yang melambangkan rasa syukur
dan kesempurnaan etos kerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel forummakassarinfo.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kelalaian Pengunjung, Motor Nyaris Raib di Losari Berhasil Diselamatkan Petugas Perumda Parkir
Trisuaka dan Zhidan “Mendadak Ngamen” Ratusan Pengunjung Kaget Atas Kehadirannya
Andi Syahrum Makkuarade Ditunjuk PLT Dirut PDAM Makassar, Ormas Elang Timur Berikan Dukungan
PKP Bukit Zaitun Raih Juara Pertama Lomba Line Dance Lintas Gerejawi di Makassar
Camat Tallo Turun Tangan, Polemik Wartawan dan Satpol PP Akhirnya Reda
Proyek PSEL Makassar Ditender Ulang, LKBH APPI : Aspek Legalitas Pemkot Diperkuat Regulasi Baru
RM SOP Kepala Ikan Chamie Pannampu Jadi Contoh Pengusaha Taat Pajak di Rapat DPRD Makassar
Jelang Pelantikan 29 Maret, LKBH APPI Matangkan Kepengurusan dan Program Strategis
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 17:16 WIB

Kelalaian Pengunjung, Motor Nyaris Raib di Losari Berhasil Diselamatkan Petugas Perumda Parkir

Senin, 20 April 2026 - 08:29 WIB

Andi Syahrum Makkuarade Ditunjuk PLT Dirut PDAM Makassar, Ormas Elang Timur Berikan Dukungan

Sabtu, 18 April 2026 - 11:04 WIB

PKP Bukit Zaitun Raih Juara Pertama Lomba Line Dance Lintas Gerejawi di Makassar

Selasa, 14 April 2026 - 12:10 WIB

Camat Tallo Turun Tangan, Polemik Wartawan dan Satpol PP Akhirnya Reda

Rabu, 8 April 2026 - 04:09 WIB

Proyek PSEL Makassar Ditender Ulang, LKBH APPI : Aspek Legalitas Pemkot Diperkuat Regulasi Baru

Berita Terbaru