Kitab I La Galigo Yang sarat Bernilai Sastra dan Mantra

- Penulis

Kamis, 3 Oktober 2024 - 12:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jacob Ereste :

FORUMMAKASSARINFO.COM-Menurut ahli bahasa dan sastra Bugis yang telah menyusun naskah I La Galigo, sebagai karya sastra terbesar di dunia, dan diakui UNESCO sebagai warisan dunia dalam Memory of The Word (MOW-UNESCO) teregister secara resmi pada 27 Juli 2011. Selain diakui sebagai karya sastra terbesar di dunia, I La Galigo juga dianggap sebagai kitab suci bagi Towani Tolotang, suatu aliran kepercayaan tradisi masa lampau yang memahami hubungan kausalitas Pencipta dengan Ciptaannya dan alam jauh sebelum adanya agama Samawi masuk ke Nusantara.

Awal mula kisahnya I La Galigo dimulai dari Batara Guru yang diutus oleh ayahnya yang bergelar Patotoe untuk menata peradaban di dunia tengah (Alekawa) yang terletak di wilayah Kabupaten Luwu Timur hingga berjuluk Bumi Batara Guru sampai sekarang.

Anak keturunan Patotoe yang menjadi semacam kisah sentral dalam epos I La Galigo berkisah tentang Batara Guru, Batara Lattu, Sawerigading, I La Galigo, Simpurusiang, Anakajin dan kisah pelengkap lainya sebagai orang Luwu yang terbilang dalam kelompok etnolinguistik yang juga berasal dari Sulawesi Selatan dengan identitasnya yang khas karena memiliki bahasa sendiri.

Tradisi demokrasi pun — meski ketika itu tidak disebut dengan istilah demokrasi — telah termanifestasikan lewat instrumen Kedatuan Luwu (Pemerintahan), sehingga semua kebijakan yang akan diputuskan selalu melalui forum musyawarah dan mufakat bersama Datu ( Raja) dengan para tokoh dan pemangku adat setempat.

Karena itu muatan nilai-nilai kearifan suku bangsa Nusantara yang terurai dalam kitab I La Galigo dapat dikatakan melupiti selurus aspek kehidupan sehingga sebagian dari naskah I La Galigo yang sudah mampu dikumpulkan berjumlah 6.000 halaman folio yang memuat sekitar 50 baris dengan jumlah suku katanya antara 10 sampai 15. Artinya, isi Kitab I La Galigo yang sudah terkumpul ini memiliki 300.000 baris panjangnya. Maka itu dari seperti jumlah halaman yang sudah terhimpun ini, bandingannya tidak kurang dari satu setengah kali lebih panjang dari epos Mahabarata yang jumlah barisnya antara 160.000 hingga 200.000 saja.

Baca Juga:  Dirgahayu Kopassus Ke-74: Sinergitas TNI-Polri Menguat, Kapolsek Bontoala Berikan Ucapan "Selamat"

Setelah 122 tahun kemudian — sejak dikumpulkan pada tahun 1879 — cetakan transkipsinya jilid ke-1 pada tahun 1994 segera disusul dengan jilid ke-2 pada tahun 2.000. Yang miris, kedua jilid kita I La Galigo ini justru diterbitkan atas sponsor Koninklujk Institut voor Taal Landen Volkenkunde (Institut Kerajaan untuk Bahasa dan Budaya Negeri Belanda.

Isi kitab I La Galigo biasanya dibacakan pada upacara adat yang dianggap sakral dan memiliki makna penting bagi warga yang mendengar dan menyimak makna yang tersirat di dalamnya. Adapun cara melakukan naskah I La Galigo dalam bahasa Bugis yang disebut Laoang yang dilantunkan oleh seorang pencerita tanpa membaca naskah. Karena memang awal mulanya naskah I La Galigo adalah mantra yang indah sastranya dilakukan secara lisan. Baru dalam perkembangan berikutnya naskah I La Galigo ini ditulis dan disusun menjadi sebuah Al kitab yang sangat dipercaya memiliki muatan dan kekuatan magis ya g kuat.

Tangerang, 29 September 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel forummakassarinfo.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bawa Nama Baik Polrestabes Makassar, Kapolsek Bontoala Apresiasi Aipda Nurhidayat Melaju ke Lomba Bhabinkamtibmas Teladan Tingkat Polda Sulsel
Guna Menciptakan Wilayah Pasar Yang Bersih, Koramil 1408-03/Wajo Gencar Melaksanakan Karya Bakti Pembersihan Pasar Bacan Kel. Melayu Baru Kec. Wajo
Bhabinkamtibmas Bunga Ejaya Pantau Pelayanan Adminduk dan Pasar Murah di Wilayahnya
Gencarkan Zona Integritas, Polsek Bontoala Pasang Banner “Stop Gratifikasi”
Dr. Haedar Djidar Nahkodai Kota Palopo Setelah Terima Mandat sebagai Ketua Markas Cabang LMP Kota Palopo
Lidik Pro Maros Soroti Laporan Pengaduan yang Masuk Sejak Desember 2025, Pelapor Harapkan Kepastian Hukum
KETUA LIDIK PRO MAROS DESAK PEMDES, DLH DAN POLRES MAROS USUT AKTIVITAS PENGERUKAN DEKAT PERMUKIMAN WARGA
Pihak Bank BRI Memviralkan Nasabah Melalui Medsos Keluarga Nasabah Tidak Terima Akan Melakukan Upaya Hukum
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 01:25 WIB

Bawa Nama Baik Polrestabes Makassar, Kapolsek Bontoala Apresiasi Aipda Nurhidayat Melaju ke Lomba Bhabinkamtibmas Teladan Tingkat Polda Sulsel

Rabu, 10 Juni 2026 - 00:45 WIB

Guna Menciptakan Wilayah Pasar Yang Bersih, Koramil 1408-03/Wajo Gencar Melaksanakan Karya Bakti Pembersihan Pasar Bacan Kel. Melayu Baru Kec. Wajo

Selasa, 9 Juni 2026 - 12:52 WIB

Bhabinkamtibmas Bunga Ejaya Pantau Pelayanan Adminduk dan Pasar Murah di Wilayahnya

Selasa, 9 Juni 2026 - 12:49 WIB

Gencarkan Zona Integritas, Polsek Bontoala Pasang Banner “Stop Gratifikasi”

Senin, 8 Juni 2026 - 01:29 WIB

Dr. Haedar Djidar Nahkodai Kota Palopo Setelah Terima Mandat sebagai Ketua Markas Cabang LMP Kota Palopo

Berita Terbaru