Dampak Yang Mengkhawatirkan: Ketika Jurnalis Menjadi Penjaga Perdamaian Pascabentrokan

- Penulis

Selasa, 9 September 2025 - 14:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FORUMMAKASSARINFO.COM-Makassar, — Dalam kehidupan perkotaan yang kompleks, bentrokan antar warga, yang sering disebut ‘tawuran’, sayangnya bukan hal yang jarang terjadi. Bentrokan ini mengganggu perdamaian, menimbulkan ketakutan, dan meninggalkan jejak pertanyaan tentang keselamatan dan keamanan. Baru-baru ini, bentrokan yang ramai diberitakan antara dua faksi lokal, yang dikenal sebagai “Layang” dan “Bunga Eja”, semakin memperjelas kekhawatiran ini.

Namun, apa yang terjadi setelahnya di posko Kamtibmas (Ketertiban dan Keamanan Masyarakat) utama bukan hanya mengkhawatirkan – melainkan sebuah pengungkapan yang mengkhawatirkan tentang kesiapan keamanan publik. Dalam situasi yang membingungkan warga dan pengamat, posko keamanan utama, yang seharusnya menjadi mercusuar, justru dijaga bukan oleh petugas polisi, melainkan oleh wartawan.

Menurut salah seorang warga hendak disebut namanya menceritakan, teror yang mereka rasakan: “Suaranya memekakkan telinga. Kami mengunci pintu, menarik anak-anak mendekat. Setiap kali ini terjadi, kami berharap ini yang terakhir, tetapi kenyataannya tidak. Kami hanya ingin hidup damai.”

Bentrokan khusus ini, yang mungkin lebih intens daripada bentrokan sebelumnya, menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan kehadiran pasukan keamanan yang kuat dan nyata untuk memulihkan ketenangan dan mencegah eskalasi lebih lanjut. Harapannya, tentu saja, adalah bahwa penegakan hukum akan segera hadir dan terlihat, tidak hanya selama konflik tetapi, yang terpenting, segera setelahnya.

Pemandangan Menggelikan di Pos Kamtibmas memiliki fungsi vital di setiap komunitas. Pos ini berfungsi sebagai pusat pelaporan insiden, koordinasi upaya keamanan, dan memberikan efek jera yang nyata bagi calon pelaku kerusuhan. Pos ini dirancang sebagai simbol kewibawaan, aksesibilitas, dan rasa aman bagi masyarakat. Setelah peristiwa penting seperti bentrokan Layang vs. Bunga Eja, kewaspadaan akan meningkat, dengan personel polisi yang secara aktif menjaga pos tersebut, memberikan rasa aman kepada warga, dan mengumpulkan informasi.

Baca Juga:  Formana Minta Kapoldasu Tangkap Bupati Dan Ketua DPRD Madina Terkait Kasus Suap

Namun, apa yang terjadi di posko utama Kamtibmas sangat berbeda dari ekspektasi tersebut. Beberapa jam setelah bentrokan, posko tersebut tampak sepi, kecuali kehadiran beberapa orang yang berdedikasi: para jurnalis. Berbekal kamera, buku catatan, dan mikrofon, mereka hadir untuk mendokumentasikan dampaknya, mewawancarai warga, dan melaporkan situasi secara keseluruhan. Mereka memang menjalankan tugas untuk memberi informasi kepada publik, tetapi dalam melakukannya, mereka secara tidak sengaja menyoroti kekosongan yang meresahkan.

“Kami tiba dengan harapan menemukan petugas sedang melakukan pengarahan, mungkin mengambil pernyataan atau merencanakan patroli,” jelas Sair Djamaluddin, seorang wartawan dari sebuah media berita lokal terkemuka. “Namun, kami mendapati pos itu kosong. Tidak ada polisi, tidak ada petugas keamanan tambahan. Hanya kami, media. Rasanya seperti mimpi. Kami di sana untuk melaporkan kurangnya kehadiran petugas keamanan, dan dengan kata lain, kami menjadi ‘penjaga’ de facto pos kosong itu, hanya karena kami satu-satunya yang ada di sana.”

Situasi ini langsung memunculkan pertanyaan kritis: Di mana polisi? Mengapa pos keamanan penting dibiarkan begitu saja setelah kerusuhan besar? Dan apa pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat yang sedang berjuang pulih dari trauma?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel forummakassarinfo.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gabungan Media & GWI Temukan Bisnis Obat Keras Tipe G di Pondok Aren Menggila: Berani Serang Jurnalis, Aparat Diminta Tegas!
Menunggu Wakil Tuhan Hakim Agung bersidang di MA RI Dalam Perkara No.10/PDT.G/2025 dan Kasasi No.3297/K/PDT/2026.
GWI Geram! Kecam Arogansi Pemdes Sumber Sari Kampar yang Abai Lambang Negara dan Alergi Kritik Jurnalis
Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono, DBA., Ph.D. Apresiasi Pengukuhan Prof. Dr. Diding Rahmat, S.H., M.H. sebagai Guru Besar di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma
Peringati Hari Bhayangkara Ke-80, Bhabinkamtibmas Kelurahan Bunga Ejaya Juara 1 Sebagai Bhabinkamtibmas Teladan Tingkat Polrestabes Makassar
Pekarangan Pangan Bergizi Polsek Bontoala Raih Juara 2 di Hari Bhayangkara Ke-80 Polrestabes Makassar
Tinjau Kembali Kasus Perdata Publik Soroti Perkembangan Perkara Terbaru Putusan PN Maros No.10/PDT.G/2025 di Makamah Agung RI Kasasi No.3297/K/PDT/2026
Pesan Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono di Hari Pelaut se Dunia 2026, Mengukir Masa Depan Maritim: Seruan Strategis bagi Sang Penakluk Ombak
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 15:02 WIB

Menunggu Wakil Tuhan Hakim Agung bersidang di MA RI Dalam Perkara No.10/PDT.G/2025 dan Kasasi No.3297/K/PDT/2026.

Selasa, 7 Juli 2026 - 17:08 WIB

GWI Geram! Kecam Arogansi Pemdes Sumber Sari Kampar yang Abai Lambang Negara dan Alergi Kritik Jurnalis

Jumat, 3 Juli 2026 - 07:29 WIB

Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono, DBA., Ph.D. Apresiasi Pengukuhan Prof. Dr. Diding Rahmat, S.H., M.H. sebagai Guru Besar di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma

Rabu, 1 Juli 2026 - 03:47 WIB

Peringati Hari Bhayangkara Ke-80, Bhabinkamtibmas Kelurahan Bunga Ejaya Juara 1 Sebagai Bhabinkamtibmas Teladan Tingkat Polrestabes Makassar

Rabu, 1 Juli 2026 - 03:45 WIB

Pekarangan Pangan Bergizi Polsek Bontoala Raih Juara 2 di Hari Bhayangkara Ke-80 Polrestabes Makassar

Berita Terbaru